<- Kembali

Pameran Tunggal Enka Komariah: Masa Peralihan

26 September – 15 November 2025

Enka Komariah

Performans Pembuka:
Dewan Pertimbangan Pembangunan Monumen “Masa Peralihan”

Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat
Jl. D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta
Selasa – Sabtu | 10:00 – 17:00

Introduction

Ketertarikan Enka Komariah pada isu-isu sejarah telah berlangsung lebih dari lima tahun. Awalnya, ketertarikan Enka tersebut hanya pada ruang-ruang yang dekat dengannya— seperti kota kelahiran beserta situs-situs yang ia kenali ketika masih remaja. Perlahan, ketertarikannya pada sejarah semakin membesar, dan membawanya pada perjalanan sejarah Indonesia dalam konteks yang luas. Ia menangkap adanya patahan-patahan sejarah yang mewarnai perjalanan Indonesia. Di antara patahan-patahan tersebut, terdapat masa-masa peralihan— masa yang mengiringi tiap kali patahan tersebut terjadi.

Alih-alih hanya tertarik pada peristiwa utamanya, Enka justru berfokus pada bagaimana sejarah selalu menuliskan kemenangan dengan menghilangkan narasi-narasi kekalahan. Enka melihat bahwa narasi kemenangan yang selalu diingat dan diamplifikasi dengan kehadiran monumen, tak jarang juga menjadi pengingat atas kekalahan. Ibarat sebuah monumen berwujud relief, narasi kekalahan hadir bagai lumut yang memenuhi dinding belakang relief. Ketertarikannya pada narasi-narasi kekalahan itu kemudian memicunya untuk menciptakan karya-karya dalam pameran tunggalnya yang berjudul “Masa Peralihan” ini. Dalam pameran ini, Enka Komariah mencatat setidaknya terdapat 20 peristiwa yang ia kumpulkan, dan kemudian hadir dalam wujud monumen di dalam ruang pamer.

Dito Yuwono & Mira Asriningtyas
Direktur Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat

Documentation

Dokumentasi Pameran Tunggal Enka Komariah: “Masa Peralihan” , Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat.

Gallery

Tampilan Pameran Tunggal Enka Komariah: “Masa Peralihan” , Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat.

Biografi

Enka Komariah lahir di Klaten pada tahun 1993. Ia lulus dari jurusan Seni Grafis Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada tahun 2017. Keunggulan karya Enka meliputi transformasi beragam medium dan narasi imajinatif sebagai ide utama karyanya, seringkali menggunakan gambar di atas kertas. Ia kerap bermain-main dengan simbol-simbol satir dan ironis, sekaligus mempermainkan batas-batas antara tabu dan norma di mata masyarakat. Ketertarikannya untuk mengolah identitasnya sendiri dengan tradisi agraris Jawa dan menyandingkannya dengan citra-citra budaya populer yang kontradiktif, menjadi ciri khas dalam karyanya. Enka mengikuti beberapa kolektif seni, termasuk Barasub (komik), Gegerboyo (mural), dan Beresyit (ilustrasi).

Publikasi Terkait

Aktivitas Rimpang Nusantara Kabar Program Kabar Teman Rimpang Kalimantan Barat_ Pontianak_ RIMPANG NUSANTARA

Dari Canopy

Aktivitas Rimpang Nusantara Kabar Program Kabar Teman Rimpang Kabupaten Bulukumba_ RIMPANG NUSANTARA Sulawesi Selatan_

Bahtera Nuh di Tanabira

Aktivitas Rimpang Nusantara Kabar Program Kabar Teman Rimpang Kabupaten Bulukumba_ RIMPANG NUSANTARA Sulawesi Selatan_

Melihat Pembuatan Perahu Padewakang

Aktivitas Rimpang Nusantara Kabar Program Kabar Teman Rimpang Kabupaten Majene_ RIMPANG NUSANTARA Sulawesi Selatan_

Ke Perpustakaan Muhammad Munir