Daftar Isi
Kata Pengantar | Dokumentasi | Biografi| Buklet
Kata Pengantar
Sebagian dari kita yang tumbuh di era 1990-an mungkin akan mendengar melodi yang akrab ketika membaca judul pameran ini—sepotong soundtrack serial TV “Keluarga Cemara”, adaptasi dari kumpulan cerpen karya Arswendo Atmowiloto yang diterbitkan pada 1981. Narasi ini mengikuti sebuah keluarga kelas menengah di Jakarta yang secara tiba-tiba terlempar ke dalam kerentanan hidup di pedesaan, di mana keintiman, kasih sayang, dan kebersamaan menjadi satu-satunya bentuk kekayaan yang benar-benar bertahan. Di saat yang sama, dengan latar rezim pembangunan pada masanya, cerita ini secara halus mengimbangi klaim negara tentang pertumbuhan yang merata, dan justru menyingkap ketimpangan pembangunan serta marginalisasi yang bersifat sistemik. Pengalaman mereka menegaskan bahwa kemiskinan bukanlah sesuatu yang kebetulan atau individual, melainkan struktural dan kolektif.
Pameran ini menyoroti dua gagasan yang saling terhubung: keluarga sebagai kekayaan terbesar dalam hidup, serta resonansinya yang problematis dalam realitas sosial-politik, baik historis maupun kontemporer. Dalam konteks ini, konsep “keluarga” memikul makna ganda—sebagai ruang afektif yang memberi perlindungan, sekaligus sebagai mekanisme untuk mengonsolidasikan kekuasaan, privilese, dan akses, yang menggemakan sejarah panjang patronase dan nepotisme.
Menampilkan karya Nindityo Adipurnomo dan Agung Kurniawan, pameran ini mencoba melihat pergeseran makna tersebut. Seri Keluarga Dinasti karya Nindityo mengartikulasikan kegelisahan yang halus, di mana relasi kekerabatan menjadi sekaligus instrumen dan konsekuensi dari ambisi politik. Sementara itu, karya-karya Agung yang dihadirkan kembali memperlihatkan kesinambungan yang ganjil, ketika hantu-hantu kekuasaan masa lalu kembali mengemuka dalam kehidupan kontemporer. Bersama-sama, karya mereka menunjukkan bahwa yang bertahan bukan hanya gagasan keluarga sebagai ruang perlindungan, tetapi juga kekerabatan yang terus-menerus dengan struktur-struktur yang membentuk ketimpangan.
Dito Yuwono & Mira Asriningtyas
Direktur Cemeti-Institut untuk Seni dan Masyarakat
Dokumentasi
Dokumentasi Pameran Kelompok: “Harta yang Paling Berharga adalah Keluarga”, Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat, 2026.
Galeri
Dokumentasi Pameran Kelompok: “Harta yang Paling Berharga adalah Keluarga”, Cemeti – Institute for Art and Society. 2026.
Biografi
Agung Kurniawan bekerja dengan berbagai media, mulai dari gambar hingga pertunjukan, ia kerap menggunakan tema-tema tabu sebagai narasi karyanya. Ia mengangkat isu-isu seperti kekerasan politik, gender, hingga genosida terhadap simpatisan komunis Indonesia pada tahun 1965. Selain itu, ia juga memanfaatkan kurasi dan festival sebagai medium untuk mengolah isu-isu yang menurutnya membutuhkan ruang publik sebagai bagian dari proses kreatif. Festival multi-event terakhir yang ia gagas adalah Amuk 1812, yang mengisahkan invasi Inggris ke Yogyakarta pada tahun 1812.
Selain berkarya sebagai seniman, ia juga turut menginisiasi pendirian institusi seperti Indonesian Visual Art Archive (1995) dan Kedai Kebun Forum (1996). Karya-karyanya dikoleksi oleh berbagai institusi, antara lain Singapore Art Museum, National Art Gallery Singapore, Van Abbe Museum Eindhoven, Stedelijk Museum Amsterdam, serta sejumlah museum privat di dalam dan luar negeri. Saat ini, ia tinggal dan berkarya di Yogyakarta.
Nindityo Adipurnomo was born in Semarang – Central Java in 1961. In 1980 he began living in Yogya until now. He studied Fine Arts at STSRI “ASRI” – Yogyakarta Painting School, then at “Rijks Akademie van Beeldende Kunsten” Amsterdam in 1986 – 1987. Working as a free-medium artist. Nindityo pays close attention to popular culture that develops from local craft creativity.
Until now, Nindityo has initiated many art projects that are participatory engagement with visitors who appreciate works of art and cross-disciplinary dance and performance besides; continuing to work with conventional mediums from academic art education. Nindityo held solo exhibitions, art project presentations and group exhibitions in national and international forums (especially in regional areas) such as the Havana Biennale, SOONSBEEK International Sculpture Exhibition. Some of Nindityo’s works are in museum collections in Fukuoka, Queensland and Singapore, and MIIAM Chiang May as well as several individual collectors in Indonesia and Asia. Starting to learn to direct attention to the idea of anthroposcene in many aspects of his work thinking.
Established and managed Cemeti Art House Yogyakarta with artist Mella Jaarsma from 1987 to 2017 in Yogyakarta. Except as co-owner Mella Jaarsma is part of the Board of Trustees of Cemeti Art House. Received the “Long Life Achievement Award John D. Rockefeller 3rd” 2015. One of the founders and members of the Board of Trustees of the IVAA Foundation (Indonesian Visual Art Archive). Former member of the Board of Trustees of the Yogyakarta Biennale Foundation (up to the 6th Equator Biennale).
Publikasi Terkait
Aktivitas Rimpang Nusantara Kabar Program Kabar Teman Rimpang Kalimantan Barat_ Pontianak_ RIMPANG NUSANTARA
Dari Canopy
Aktivitas Rimpang Nusantara Kabar Program Kabar Teman Rimpang Kabupaten Bulukumba_ RIMPANG NUSANTARA Sulawesi Selatan_
Bahtera Nuh di Tanabira
Aktivitas Rimpang Nusantara Kabar Program Kabar Teman Rimpang Kabupaten Bulukumba_ RIMPANG NUSANTARA Sulawesi Selatan_
Melihat Pembuatan Perahu Padewakang
Aktivitas Rimpang Nusantara Kabar Program Kabar Teman Rimpang Kabupaten Majene_ RIMPANG NUSANTARA Sulawesi Selatan_
